Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

SEBELUM BACA ARTIKEL DAPATKAN SALDO SHOPEEPAY DISINI

Sudah Sumbang Rp200 Ribu, Pemilik Kedai Kopi di Cikarang Malah Diminta 30 Cup: “Panitia 17-an Kok Begini?”


Menyambut HUT Kemerdekaan RI, warga di berbagai daerah biasanya mulai sibuk mempersiapkan berbagai kegiatan 17 Agustus. Mulai dari menghias lingkungan, menggelar perlombaan, hingga mengumpulkan iuran untuk memeriahkan acara.

Namun, pengalaman berbeda dialami seorang pemilik kedai kopi di Cikarang.

Alih-alih mendapat ucapan terima kasih setelah memberikan sumbangan, pemilik kedai tersebut justru kembali didatangi panitia kegiatan 17-an dengan permintaan tambahan yang cukup membuatnya geleng-geleng kepala.

Dalam curhatannya yang kemudian viral di media sosial, pemilik kedai mengaku telah memberikan uang tunai sebesar Rp200.000 sebagai bentuk kontribusi untuk kegiatan warga.

Jumlah tersebut sebenarnya sudah diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap acara kemerdekaan di lingkungan sekitar.

Namun, persoalan muncul ketika oknum warga yang disebut sebagai Akamsi (anak kampung sini) kembali datang ke kedai.

Kali ini bukan meminta uang.

Melainkan 30 cup kopi untuk dibagikan dalam acara 17-an.

Yang membuat pemilik kedai keberatan, permintaan tersebut disebut bukan disampaikan sebagai permohonan sukarela, melainkan dengan jumlah yang sudah ditentukan.

Curhatan itu pun langsung mengundang beragam reaksi warganet.

Sebagian netizen menilai tindakan tersebut sudah kelewat batas. Apalagi pemilik usaha sebelumnya telah memberikan kontribusi berupa uang tunai.

Ada pula yang menyebut fenomena semacam ini sebagai bentuk “pemaksaan halus” yang terkadang dialami pelaku usaha ketika berada di lingkungan permukiman.

Namun, tak sedikit pula warganet yang justru menanggapinya dengan candaan karena merasa situasi tersebut sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sudah kasih uang, masih dapat bonus order 30 cup. 😂

Meski sempat menjadi perbincangan, persoalan tersebut akhirnya tidak berujung panjang. Oknum warga yang bersangkutan disebut menyadari kesalahannya, meminta maaf, dan persoalan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa semangat gotong royong seharusnya tetap mengedepankan kesukarelaan dan saling menghargai, terutama terhadap para pelaku usaha di lingkungan sekitar.

Sebab membantu kegiatan warga memang bagian dari kebersamaan.

Tetapi jangan sampai semangat 17 Agustus berubah menjadi beban bagi warga maupun pelaku usaha.

Kalau menurut Anda, bagaimana seharusnya panitia 17-an meminta sumbangan kepada pelaku usaha?

💬 Wajar minta kontribusi, atau sudah kelewatan kalau menentukan jumlahnya?




Kalau ingin baca artikel lengkapnya bisa ditutup dulu videonya
Panitia kok begitu?