Dua Bocah di Dairi Diduga Disiksa Bibi Selama Bertahun-tahun, Terungkap Lewat Video Viral
DAIRI – Kasus dugaan kekerasan terhadap dua anak laki-laki di kawasan Jalan Merdeka, tepatnya di belakang Gedung Nasional Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, mengundang keprihatinan setelah video salah satu korban beredar luas di media sosial.
Kasus tersebut mencuat pada Jumat (21/8/2026). Dalam video yang beredar, seorang anak berinisial AGP (7) terlihat mengalami sejumlah luka pada bagian wajah, kepala, dan tangan.
Luka pada bagian mulut dan bibir bahkan membuat AGP kesulitan berbicara ketika menceritakan dugaan kekerasan yang dialaminya.
Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas Unit PPA Satreskrim Polres Dairi bersama Dinas PPA langsung mendatangi lokasi dan mengevakuasi korban.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan kondisi AGP cukup memprihatinkan. Selain memar di sejumlah bagian tubuh, ditemukan pula lebam pada tangan kiri serta luka di bagian kaki yang telah mengalami infeksi.
Dalam keterangannya kepada petugas, AGP juga menyebut adiknya, AP (6), mengalami luka akibat dugaan kekerasan di rumah yang sama.
Penyelidikan kemudian mengarah kepada seorang perempuan berinisial RS (52), yang disebut merupakan bibi kedua korban.
Kedua anak tersebut diketahui selama ini tinggal bersama RS. Berdasarkan keterangan yang disampaikan polisi, mereka telah diasuh oleh RS selama kurang lebih lima tahun.
Kapolres Dairi menjelaskan, berdasarkan pengakuan RS, dugaan penganiayaan dipicu persoalan uang mingguan yang biasanya dikirim oleh ibu korban.
“Uang mingguan tidak lancar dikirim. Jadi tersangka kesal sama ibu korban, dan kekesalannya dilampiaskan kepada kedua anak itu,” jelas Kapolres Dairi.
Polisi juga menyebut dugaan kekerasan dilakukan menggunakan sejumlah benda, termasuk sapu dan gantungan pakaian.
Kekesalan RS disebut semakin berat karena suaminya saat ini juga sedang menjalani hukuman di penjara.
RS kini telah diamankan di Satreskrim Polres Dairi untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut.
Sementara itu, kedua korban telah mendapatkan perlindungan dan perawatan medis di RSUD Sidikalang.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa anak seharusnya mendapatkan perlindungan, terutama dari orang-orang terdekat yang dipercaya untuk mengasuh mereka.
Tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan terhadap anak.
Masyarakat juga diimbau tidak melakukan tindakan main hakim sendiri dan menyerahkan proses hukum kepada pihak berwenang, sembari memastikan keselamatan serta pemulihan kedua korban menjadi prioritas.
Menurut Anda, apa yang harus dilakukan agar kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga seperti ini bisa lebih cepat terdeteksi?
