Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Viral! Karyawan SPPG Purbalingga Sebut Masyarakat “Rakyat Jelata Kurang Bersyukur”, Warganet Murka


Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah unggahan kontroversial yang berasal dari seorang karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Purbalingga.

Kegaduhan bermula dari sebuah status WhatsApp yang diduga ditulis oleh oknum karyawan tersebut. Dalam unggahan yang kemudian tersebar luas di media sosial itu, ia menyebut masyarakat dengan istilah “rakyat jelata kurang bersyukur.”


Unggahan Picu Kemarahan Warganet

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai penggunaan istilah “rakyat jelata” sangat tidak pantas, apalagi diucapkan oleh seseorang yang bekerja di lembaga pelayanan publik.

SPPG sendiri merupakan unit yang bertugas mendukung program pemenuhan gizi masyarakat. Karena itu, publik menilai ucapan tersebut terasa ironis dan dianggap tidak mencerminkan empati kepada masyarakat yang menjadi sasaran program bantuan.

Sejumlah pengguna media sosial juga menilai bahwa meskipun keluhan terhadap pekerjaan bisa saja terjadi, namun merendahkan masyarakat yang dilayani merupakan tindakan yang tidak etis.

Oknum Relawan SPPG meminta maaf meskipun di pecat
⚠️ Kalau kamu dialihkan ke situs lain, silakan kembali lagi ke halaman ini. Video akan berputar normal.

Oknum Karyawan Akhirnya Minta Maaf

Setelah unggahannya menuai kritik luas, karyawan tersebut akhirnya memberikan klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.

Dalam pernyataannya, ia mengaku menyesali kata-kata yang ditulisnya dan menegaskan bahwa tidak ada niat untuk merendahkan masyarakat.

Permintaan maaf itu disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab atas kegaduhan yang muncul akibat unggahannya.


Pelajaran di Era Media Sosial

Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa setiap pernyataan di media sosial dapat berdampak besar, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor pelayanan publik.

Di era digital, jejak digital dapat dengan mudah tersebar dan memicu reaksi luas dari masyarakat. Karena itu, kehati-hatian dalam menggunakan kata-kata di ruang publik menjadi hal yang sangat penting, agar tidak menimbulkan polemik maupun merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang dilayani.