Viral! Didemo Warganya Sendiri, Kades di Bima Malah Lepas Baju dan Tantang Duel
Sebuah video amatir dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat mendadak viral di media sosial. Video tersebut memancing reaksi beragam dari warganet karena memperlihatkan aksi tak biasa seorang kepala desa saat menghadapi demonstrasi warga.
Alih-alih berlangsung dengan dialog dan musyawarah, situasi justru berubah menjadi tontonan yang membuat banyak orang tercengang sekaligus geleng-geleng kepala.
Demo Warga Berujung Emosi
Dalam video yang beredar, terlihat sekelompok warga datang untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah desa.
Sebagai pemimpin wilayah, kepala desa seharusnya menjadi sosok yang menenangkan situasi dan membuka ruang dialog dengan masyarakat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Oknum kepala desa tersebut terlihat merespons kedatangan warga dengan nada tinggi dan emosi yang memuncak.
Suasana yang seharusnya bisa dimediasi dengan diskusi berubah menjadi tegang di tengah kerumunan warga.
Lepas Baju dan Tantang Duel
Ketegangan mencapai puncaknya ketika sang kepala desa tiba-tiba melakukan aksi tak terduga.
Diduga karena emosi memuncak, ia mendadak melepas bajunya di depan warga yang sedang berunjuk rasa.
Dengan bertelanjang dada, ia bahkan terlihat menantang para pendemo untuk berkelahi secara fisik.
Aksi tersebut membuat suasana semakin kacau. Beberapa warga yang berada di lokasi terlihat berusaha menahan dan menenangkan sang kepala desa agar situasi tidak semakin memanas.
Penyebab Demo Masih Jadi Misteri
Menariknya, hingga video tersebut viral di berbagai platform media sosial, belum diketahui secara pasti apa sebenarnya tuntutan utama warga yang datang melakukan aksi tersebut.
Publik justru lebih banyak menyoroti sikap sang kepala desa yang dinilai tidak mencerminkan sikap seorang pejabat publik.
Tuai Kritik Warganet
Setelah video itu menyebar luas di internet, banyak warganet memberikan kritik terhadap perilaku tersebut.
Sebagian menilai tindakan tersebut terlalu emosional dan tidak menunjukkan sikap kepemimpinan yang bijak.
Banyak pula yang menyayangkan bahwa persoalan administrasi dan aspirasi warga justru direspons dengan emosi, bukan melalui dialog dan penyelesaian secara musyawarah.
Peristiwa di Bima ini pun menjadi pengingat bahwa menghadapi kritik dari masyarakat membutuhkan kesabaran serta kemampuan mengelola emosi, terutama bagi seorang pemimpin yang dipercaya untuk melayani warganya.
