Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sore Jelang Buka Puasa Susah Dapat Ojol? Ternyata Ini Alasannya, Banyak Driver Sengaja Matikan Aplikasi


Fenomena sulitnya mendapatkan pengemudi ojek online (ojol) pada jam sibuk, terutama menjelang waktu berbuka puasa selama bulan Ramadan, kini semakin sering dirasakan masyarakat di Jakarta.

Sejumlah pengemudi mengungkapkan bahwa kondisi ini terjadi karena tarif perjalanan dianggap tidak sebanding dengan waktu tempuh yang terhambat kemacetan.

Yanto (42), seorang driver ojol yang biasa mangkal di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, mengaku banyak pengemudi sengaja mematikan aplikasi atau off bid saat jam rawan macet.

Menurutnya, kemacetan saat jam pulang kantor bisa membuat waktu perjalanan meningkat drastis.

“Kalau jam pulang kantor di Jakarta, macetnya kan ampun-ampunan. Jarak yang biasanya ditempuh 15 menit bisa jadi 40 menit sampai satu jam. Tapi argonya enggak naik, segitu-segitu aja. Waktu kita kebuang, bensin juga habis,” ujarnya saat ditemui wartawan.

Yanto mengatakan dirinya sering mematikan aplikasi mulai pukul 16.00 hingga waktu Maghrib selama Ramadan.

Menurutnya, tetap menerima order di jam tersebut justru berisiko terjebak macet tanpa keuntungan yang sepadan.

“Pendapatan harian malah cenderung turun karena kita pilih off bid jelang buka puasa daripada kejebak macet di jalan,” katanya.

Driver lain bernama Fajri juga mengeluhkan sistem tarif yang dinilai belum memperhitungkan jarak saat menjemput penumpang.

Ia menjelaskan bahwa kemacetan sering terjadi bahkan sebelum perjalanan dimulai, yaitu saat driver menuju titik penjemputan.

“Sementara yang dibayar itu cuma dari tempat customer ke tujuan. Dari pangkalan ke titik jemput kan kena macet juga, tapi enggak masuk argo,” jelasnya.

Fajri juga mengaku kerap menerima order dengan jarak penjemputan cukup jauh. Dalam beberapa kasus, penumpang bahkan membatalkan pesanan sebelum driver tiba di lokasi.

Ironisnya, pembatalan tersebut justru berdampak pada penurunan rating pengemudi.

Selain itu, potongan aplikasi yang bisa mencapai sekitar 20 persen juga turut memengaruhi pendapatan mereka.

Menurut Fajri, kondisi tersebut membuat banyak driver merasa kurang semangat mengambil order saat jam-jam macet.

“Jemput kena macet, antar kena macet, argonya Rp15 ribu. Kita dapatnya cuma sekitar Rp10 ribu karena potongan. Jadi ya berasa juga,” ujarnya.

Ia mengaku pendapatan driver saat ini jauh menurun dibandingkan masa awal kemunculan ojol.

“Dulu awal-awal sehari bisa Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Sekarang Rp100 ribu sampai Rp150 ribu saja susah,” katanya.

Selama Ramadan, Fajri memilih berhenti bekerja saat sore hari untuk berbuka puasa bersama keluarga. Ia baru kembali mencari order pada malam hari setelah salat tarawih.

“Nanti malam habis tarawih baru keluar lagi cari order sampai sahur,” tuturnya.