Ratusan Siswa SMA di NTT Diduga Keracunan Makan Bergizi Gratis, Ayam Tak Matang Jadi Sorotan
Peristiwa yang mengkhawatirkan terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Ratusan siswa di SMA Negeri 1 Insana dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan setelah menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis pada Jumat, 6 Maret 2026.
Insiden ini menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah setelah sejumlah siswa mengeluhkan berbagai gejala gangguan kesehatan tak lama setelah mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program tersebut. Beberapa siswa mengalami mual, sakit perut, hingga diare.
Meski ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala serupa, hanya tujuh orang yang harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Tujuh Siswa Dilarikan ke Puskesmas
Dari data yang dihimpun pihak sekolah, tujuh siswa yang mengalami gejala paling serius langsung dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Ketujuh siswa tersebut diketahui berasal dari kelas yang berbeda di SMA Negeri 1 Insana. Mereka mengalami kondisi yang cukup mengkhawatirkan seperti diare berulang, mual, sakit perut, serta tubuh yang terasa lemas.
Para tenaga medis kemudian melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Menurut informasi dari pihak sekolah, sebagian dari siswa yang dirawat sudah mulai menunjukkan kondisi yang membaik setelah mendapatkan penanganan medis.
Sebagian Siswa Sudah Dipulangkan
Kepala SMA Negeri 1 Insana, Sekunda Nofu, menjelaskan bahwa dari tujuh siswa yang dirawat, empat orang di antaranya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatan mereka membaik.
Sementara itu, tiga siswa lainnya masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan untuk memastikan kondisi mereka benar-benar stabil sebelum kembali ke rumah.
“Ada ratusan siswa yang mengalami gejala, tetapi hanya tujuh yang harus dilarikan ke puskesmas. Empat siswa sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan, sementara tiga lainnya masih menjalani rawat inap,” ujar Sekunda Nofu.
Ia menambahkan bahwa pihak sekolah terus memantau perkembangan kesehatan para siswa yang terdampak kejadian tersebut.
Diduga Berasal dari Makanan yang Disajikan
Kejadian ini diduga berkaitan dengan makanan yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis di sekolah tersebut.
Menu makanan yang disediakan untuk para siswa pada hari itu terdiri dari nasi putih, ayam woku, tempe saus tiram, tumis labu, serta buah kelengkeng.
Menu tersebut sebenarnya telah disusun sesuai dengan rekomendasi ahli gizi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi siswa.
Namun dugaan sementara menyebutkan bahwa salah satu komponen makanan, yakni daging ayam, kemungkinan tidak dimasak dengan sempurna sehingga memicu gangguan kesehatan pada siswa.
Meski demikian, penyebab pasti kejadian ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Sampel Makanan Diuji di Laboratorium
Untuk memastikan penyebab kejadian tersebut, tim Satuan Tugas Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Timor Tengah Utara langsung mengambil sampel makanan yang disajikan kepada para siswa.
Sampel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium di Kupang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pemeriksaan laboratorium ini bertujuan untuk mengetahui apakah makanan tersebut mengandung bakteri atau zat tertentu yang dapat menyebabkan keracunan makanan.
Hasil pengujian tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab sebenarnya dari kejadian yang menimpa para siswa.
Sekolah Tegaskan Keselamatan Siswa Prioritas
Kepala sekolah menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan siswa merupakan hal yang paling utama bagi pihak sekolah.
Ia menyatakan bahwa pihak sekolah tidak akan mentolerir segala bentuk kelalaian yang dapat membahayakan peserta didik.
Menurutnya, insiden ini menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program makanan di sekolah.
Pihak sekolah juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan langkah penanganan yang tepat dilakukan.
Pengakuan Kelalaian dari Pengelola
Dalam perkembangan kasus ini, pihak pengelola penyedia makanan yang dikenal sebagai SPPG Susulaku disebut telah mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan standar kebersihan dan keamanan makanan.
Mereka menyampaikan permohonan maaf serta berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
Selain itu, pihak pengelola juga berkomitmen untuk melakukan evaluasi terhadap seluruh prosedur pengolahan makanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
Insiden ini juga memicu perhatian terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di sejumlah daerah.
Program tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi bagi para pelajar melalui penyediaan makanan sehat di sekolah.
Namun kejadian di SMA Negeri 1 Insana menunjukkan bahwa pengawasan terhadap kualitas makanan menjadi aspek yang sangat penting dalam pelaksanaan program tersebut.
Banyak pihak berharap kejadian ini dapat menjadi bahan evaluasi agar standar keamanan makanan benar-benar diterapkan secara ketat.
Kondisi Siswa Terus Dipantau
Saat ini kondisi para siswa yang terdampak masih terus dipantau oleh pihak sekolah dan tenaga kesehatan.
Sekolah juga berkoordinasi dengan orang tua siswa untuk memastikan mereka mendapatkan perawatan yang diperlukan.
Sementara itu, aktivitas belajar mengajar di sekolah tetap berjalan dengan pengawasan lebih ketat terhadap kesehatan para siswa.
Pihak sekolah berharap seluruh siswa yang sempat mengalami gangguan kesehatan dapat segera pulih sepenuhnya.
Menunggu Hasil Pemeriksaan
Hingga saat ini, penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari sampel makanan yang telah dikirim ke Kupang.
Hasil tersebut akan menjadi dasar bagi pihak berwenang untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan adanya tindakan perbaikan dalam sistem penyediaan makanan di sekolah.
Masyarakat setempat berharap kejadian ini dapat segera terungkap secara jelas agar tidak menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut.
Sementara itu, perhatian publik terhadap keselamatan makanan dalam program makan bergizi di sekolah juga semakin meningkat setelah insiden ini terjadi.
