Dulu Rajanya Sirup Lebaran, Kenapa Sekarang Banyak Orang Beralih ke Marjan?
Ada satu hal menarik dalam dunia pemasaran minuman di Indonesia, terutama saat bulan Ramadan dan Idul Fitri. Dulu, bagi banyak orang, sirup yang identik dengan momen puasa dan lebaran hampir selalu satu nama: ABC.
Bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an hingga awal 2000-an, sirup ABC hampir selalu hadir di meja makan saat berbuka puasa. Rasanya sudah seperti tradisi: es batu, air, dan sirup ABC.
Namun seiring waktu, peta pasar berubah cukup drastis.
Munculnya Marjan membawa pendekatan pemasaran yang berbeda. Produk ini tidak hanya dijual sebagai sirup biasa, tetapi diposisikan sebagai bahan utama untuk berbagai kreasi minuman: dari es campur, mocktail, hingga minuman kekinian.
Strategi iklannya juga sangat kuat. Setiap menjelang Ramadan, iklan Marjan hampir selalu muncul dengan konsep cerita yang emosional, sinematik, dan mudah diingat.
Tanpa harus “teriak jualan”, iklan tersebut justru membangun asosiasi yang kuat di benak masyarakat: Ramadan identik dengan Marjan.
Secara marketing, ini contoh strategi yang cukup efisien. Tidak harus beriklan sepanjang tahun, tetapi fokus pada satu momentum besar ketika konsumsi minuman manis meningkat.
Akibatnya, persepsi pasar perlahan berubah. Produk yang dulu dianggap sebagai pilihan utama kini mulai terasa seperti opsi kedua bagi sebagian konsumen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam dunia bisnis, bukan hanya produk yang menentukan posisi di pasar, tetapi juga bagaimana sebuah merek membangun cerita, kebiasaan, dan momen di benak konsumennya.
