Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dashcam Bus Transjatim Bongkar Fakta Kecelakaan di Lamongan, Sopir Ternyata Bukan Penyebab Utama


Rekaman dashcam bus Transjatim akhirnya membuka fakta penting di balik kecelakaan yang melibatkan satu keluarga di Jalan Raya Takeran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, pada 18 Maret 2026. Video tersebut menjadi bukti kuat bahwa sopir bus tidak berada dalam posisi bersalah seperti yang sempat dituduhkan warga usai insiden terjadi.

CCTV BUS MEMPERLIHATKAN BUS TIDAK SALAH
⚠️ Kalau kamu dialihkan ke situs lain, silakan kembali lagi ke halaman ini. Video akan berputar normal.


Berdasarkan kronologi yang beredar, kecelakaan bermula saat sepeda motor Honda Vario bernopol S 6918 JCJ yang ditumpangi satu keluarga asal Desa Takerharjo hendak keluar menuju jalan raya dari pertigaan Jalan Haji Moh. Ilham ke Jalan Raya Takeran. Motor itu ditumpangi Abdul Sholeh, Rihlatussa’adah, dan Rafan Ahnafi.


Saat berada di titik pertemuan jalan, motor tersebut mendadak bergerak maju setelah Rafan Ahnafi yang duduk di bagian depan disebut menarik tuas gas. Pada saat bersamaan, sebuah bus Mitsubishi Fuso Canter milik Transjatim bernopol S 7090 UJ yang dikemudikan Yoyok Ardianto tengah melintas di jalur utama. Tabrakan pun tidak bisa dihindari.


Akibat peristiwa itu, ketiga korban langsung dilarikan ke RS Muhammadiyah Lamongan untuk mendapatkan penanganan medis. Namun nahas, sang ayah, Abdul Sholeh, meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan. Sementara sang istri dan anaknya dilaporkan selamat, meski mengalami luka yang cukup berat.


Sesaat setelah kecelakaan, situasi di lokasi sempat memanas. Sopir bus Transjatim, Yoyok Ardianto, justru menjadi sasaran kemarahan warga yang emosional melihat kejadian tersebut. Dalam video yang beredar, sopir tampak dimaki bahkan dipukul oleh sejumlah warga, padahal penyebab pasti kecelakaan saat itu belum diketahui secara utuh.


Setelah rekaman dashcam bus muncul, narasi kejadian pun mulai berubah. Video tersebut memperlihatkan bahwa bus melaju di jalur utamanya, sementara motor tiba-tiba masuk ke badan jalan pada momen yang sangat sempit. Karena itu, banyak pihak menilai sopir bus justru menjadi korban amuk massa di tengah situasi yang belum jelas.


Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa emosi sesaat di lokasi kecelakaan bisa memperkeruh keadaan dan berisiko menimbulkan korban baru. Publik diimbau untuk tidak langsung menghakimi pengemudi hanya dari potongan informasi atau suasana panik di tempat kejadian, apalagi ketika bukti visual seperti dashcam justru menunjukkan gambaran yang berbeda.


Kalau kamu mau, saya bisa ubah ini jadi versi 1000 kata, lebih dramatis untuk Facebook, atau gaya berita netral dan lebih rapi untuk blog.