Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anaknya Tewas Tertembak Polisi, Ayah Remaja di Makassar Justru Punya Permintaan Khusus ke Kapolda


Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Bertrand Eka Prasetyo (18), remaja yang meninggal dunia setelah tertembak saat proses pengamanan oleh aparat di Makassar, Sulawesi Selatan. Di tengah kesedihan tersebut, ayah korban, Yaya (54), menyampaikan sebuah permintaan khusus kepada Kapolda Sulawesi Selatan.

Dalam keterangannya yang beredar pada Jumat (6/3/2026), Yaya berharap adik dari almarhum suatu hari bisa diterima menjadi anggota Polisi Wanita (Polwan).

“Saya berharap kepada Bapak Kapolda Sulsel, adik almarhum ini bercita-cita jadi Polwan. Jadi saya meminta agar adik almarhum bisa diterima menjadi polisi,” ujar Yaya.


Apresiasi Penangkapan Pelaku

Meski kehilangan putranya, Yaya tetap menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polda Sulawesi Selatan dan Polrestabes Makassar yang dinilai bergerak cepat dalam mengamankan pelaku yang diduga terlibat dalam insiden penembakan tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa keluarga mendukung proses hukum berjalan secara terbuka, transparan, dan memberikan rasa keadilan bagi almarhum.


Minta Masyarakat Tetap Tenang

Dalam situasi yang penuh duka, Yaya juga mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi dan tidak menimbulkan kegaduhan atas peristiwa yang terjadi.

Ia meminta semua pihak tetap tenang dan mempercayakan proses penanganan perkara sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.

“Terima kasih banyak buat Bapak Kapolda Sulsel yang telah menangkap pelaku dan memprosesnya secara adil. Kami juga dari keluarga menyampaikan agar peristiwa ini jangan sampai menimbulkan keributan,” katanya.


Sikap Ibu Korban Berbeda

Sikap tenang yang ditunjukkan sang ayah berbeda dengan pernyataan ibu korban, Desi Manutu (44). Melalui kuasa hukumnya dari LBH Makassar, Desi meminta agar oknum polisi yang telah ditetapkan sebagai tersangka tidak hanya diproses secara pidana.

Ia juga meminta agar yang bersangkutan diberikan sanksi tegas berupa pemecatan dari institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Saat insiden terjadi, Desi diketahui sedang berada di Jakarta. Ia mengaku sangat terpukul setelah mendapat kabar bahwa putranya meninggal dunia akibat tembakan aparat.

Menurutnya, tindakan tersebut dinilai berlebihan karena anaknya bukan pelaku tindak pidana berat yang harus dilumpuhkan dengan senjata api.

“Heran kenapa anak yang masih sekecil itu harus ditembak. Kalau memang ada salahnya, saya tidak masalah dia ditangkap, tapi kenapa malah ditembak,” ujar Desi dengan nada sedih.


Keluarga Tunggu Proses Hukum

Kini keluarga besar Bertrand masih menunggu perkembangan penyidikan kasus yang menjerat seorang perwira polisi berinisial Iptu N.

Mereka berharap proses hukum yang dijanjikan berjalan secara transparan hingga perkara tersebut nantinya diproses di pengadilan.

Keluarga juga berharap keadilan benar-benar ditegakkan, sehingga peristiwa yang menimpa Bertrand dapat diungkap secara jelas dan memberikan kepastian hukum bagi semua pihak.