Kisah Aminatus Sadiyah dari Lembah Baliem: Tetap Berdakwah Saat Hamil hingga Raih Hadiah Umrah Gratis
Semangat pengabdian seorang perempuan muda asal Papua menarik perhatian publik. Aminatus Sadiyah, warga asli Lembah Baliem, tepatnya dari Desa Wosilimo, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menunjukkan dedikasi luar biasa dalam membina umat Muslim di daerahnya. Di tengah keterbatasan dan tantangan geografis, ia tetap konsisten berdakwah, bahkan saat sedang mengandung hingga setelah melahirkan.
Sadiyah dikenal sebagai salah satu Muslimah aktif yang tergabung dalam organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) cabang Jayawijaya. Kiprahnya tidak hanya sebatas kegiatan sosial, tetapi juga pembinaan keagamaan bagi para ibu dan anak-anak Muslim di wilayah pedalaman Lembah Baliem.
Perjuangan Sadiyah dimulai dari kepeduliannya terhadap kondisi pendidikan agama di lingkungannya. Di kawasan yang mayoritas penduduknya tinggal di honai—rumah adat khas masyarakat Baliem—akses terhadap pembinaan keagamaan masih terbatas. Hal inilah yang mendorongnya untuk turun langsung memberikan pengajaran mengaji dan membaca Al-Qur’an bagi ibu-ibu serta anak-anak setempat.
Yang membuat kisah ini semakin menginspirasi, aktivitas dakwah tersebut tetap ia jalani meskipun sedang hamil. Dalam kondisi fisik yang tidak selalu prima, Sadiyah tetap hadir di tengah masyarakat. Ia tidak menjadikan kehamilan sebagai alasan untuk berhenti mengabdi. Baginya, menyebarkan ilmu agama merupakan panggilan hati yang tidak bisa ditunda.
Setelah melahirkan pun, komitmen itu tidak surut. Sadiyah tetap aktif menggelar kegiatan rutin setiap pekan. Ia membagi waktunya antara mengurus keluarga, mengasuh anak, melanjutkan pendidikan, serta mengajar para ibu dan anak-anak. Ketekunan tersebut membuatnya semakin dihormati oleh masyarakat sekitar.
Dalam kesehariannya, Sadiyah bahkan rela menempuh jarak yang cukup jauh untuk memastikan para peserta pengajian dapat kembali ke rumah masing-masing dengan aman. Tidak jarang ia mengantar jemput para ibu menuju honai mereka, melewati medan yang tidak selalu mudah dilalui. Kondisi geografis Lembah Baliem yang berbukit dan cuaca yang sering berubah tidak menyurutkan langkahnya.
Rekan-rekannya di BSMI Jayawijaya menilai Sadiyah sebagai sosok pekerja keras dan penuh ketulusan. Selain aktif berdakwah, ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemanusiaan yang digelar organisasi tersebut di wilayah Jayawijaya. Dedikasinya yang konsisten membuat namanya dikenal luas di lingkungan komunitas Muslim setempat.
Pengabdian tanpa pamrih itu akhirnya mendapat apresiasi. BSMI bekerja sama dengan sejumlah pihak memberikan penghargaan kepada Sadiyah berupa kesempatan menunaikan ibadah umrah secara gratis. Kabar tersebut diumumkan melalui akun media sosial resmi BSMI Jayawijaya dan langsung mendapat respons positif dari warganet.
“Alhamdulillah, beliau terpilih untuk umrah gratis,” demikian pernyataan yang diunggah akun resmi tersebut. Pengumuman itu sontak menyita perhatian publik, terutama karena latar belakang perjuangan Sadiyah yang penuh pengorbanan.
Hadiah umrah tersebut dipandang sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi yang telah ia tunjukkan selama ini. Bagi Sadiyah, kesempatan itu bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga simbol bahwa perjuangan di daerah terpencil pun dapat diapresiasi.
Cerita tentang Sadiyah kemudian menyebar luas dan menginspirasi banyak orang. Sosoknya menjadi gambaran nyata bahwa dakwah dan pendidikan agama tidak mengenal batas wilayah maupun kondisi pribadi. Komitmen dan konsistensi menjadi kunci utama dalam menjalankan pengabdian.
Kisahnya juga sampai ke telinga sejumlah tokoh Papua, termasuk Christ Wamea, yang turut memberikan perhatian atas dedikasi tersebut. Apresiasi dari berbagai pihak menunjukkan bahwa kerja-kerja sosial dan keagamaan yang dilakukan secara tulus akan menemukan jalannya sendiri untuk dihargai.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan di wilayah Papua Pegunungan, kiprah individu seperti Sadiyah menjadi contoh penting tentang peran perempuan dalam membangun komunitas. Ia tidak hanya berfokus pada pendidikan agama, tetapi juga turut memperkuat solidaritas sosial di lingkungannya.
Aktivitas pengajian yang ia lakukan setiap pekan menjadi ruang belajar sekaligus ruang kebersamaan. Anak-anak belajar membaca dan mengenal ajaran agama sejak dini, sementara para ibu mendapatkan pendampingan spiritual yang memperkuat ketahanan keluarga.
Sadiyah sendiri dikenal sebagai pribadi sederhana dan tidak banyak berbicara soal pencapaiannya. Baginya, yang terpenting adalah keberlanjutan pembinaan umat. Ia berharap semakin banyak generasi muda Papua yang memiliki semangat serupa untuk membangun daerahnya melalui pendidikan dan nilai-nilai keagamaan.
Pemberian hadiah umrah tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi relawan lainnya untuk terus berkontribusi di tengah masyarakat. BSMI Jayawijaya menyatakan komitmennya untuk terus mendukung kader-kader yang aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah di wilayah pedalaman.
Kisah Aminatus Sadiyah dari Lembah Baliem menjadi potret tentang keteguhan hati dan semangat pengabdian yang tumbuh dari daerah yang jauh dari pusat kota. Di balik medan berat dan keterbatasan fasilitas, ia membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Perjalanan umrah yang akan dijalaninya menjadi babak baru dalam kisah perjuangannya. Namun bagi masyarakat Wosilimo dan sekitarnya, Sadiyah tetap sosok yang sederhana—seorang ibu, mahasiswa, sekaligus pengajar yang hadir setiap pekan untuk membimbing dan mendampingi umat.
Dedikasi tersebut menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam skala besar. Dengan ketulusan dan komitmen, kontribusi di tingkat lokal pun mampu memberi dampak luas dan menginspirasi banyak pihak.

Posting Komentar untuk "Kisah Aminatus Sadiyah dari Lembah Baliem: Tetap Berdakwah Saat Hamil hingga Raih Hadiah Umrah Gratis"