Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cinta di Bawah Bayang Patriarki: Tragedi Berdarah di Kebun Sawit Simalungun


Di balik rimbunnya perkebunan kelapa sawit di tanah Simalungun pada awal 1970-an, ketika embun pagi masih setia menggantung di ujung daun dan burung-burung liar bernyanyi tanpa tahu tragedi apa yang sedang menunggu, tersimpan sebuah kisah yang hingga kini masih terasa seperti luka yang belum benar-benar kering.

Ini bukan sekadar cerita tentang pembunuhan. Ini adalah kisah tentang cinta yang dipatahkan oleh ambisi, tentang seorang ayah yang menjadikan kuasa sebagai senjata, dan tentang seorang anak yang kehilangan arah hingga mengkhianati hatinya sendiri.


Cinta yang Tumbuh di Tanah Sawit

Japikkir Sinaga baru berusia 21 tahun saat itu. Tubuhnya tinggi dan kekar, kulitnya legam terbakar matahari karena terbiasa bekerja di kebun. Ia bukan anak kota, bukan pula pemuda berpendidikan tinggi. Ia hanyalah anak kampung yang tumbuh di bawah bayang-bayang ayah yang keras.

Di tengah rutinitas hidup desa, ia menemukan cahaya dalam diri seorang gadis bernama Santi boru Butar-Butar.

Santi masih muda, lugu, dan penuh harapan. Senyumnya sederhana, tawanya ringan seperti angin sore yang menyapu kebun sawit. Hubungan mereka bukan main-main. Janji untuk menikah telah terucap. Bagi Japikkir, Santi adalah masa depan yang ingin ia bangun dengan tangannya sendiri.

Namun cinta mereka tidak berdiri di ruang kosong. Ia berdiri tepat di hadapan seorang pria yang tidak pernah terbiasa ditentang: Jainardo Sinaga, ayah Japikkir.

Jainardo berusia 55 tahun. Ia adalah sosok patriarki yang dihormati sekaligus ditakuti. Kata-katanya adalah hukum di dalam rumah. Keputusan yang ia buat tidak untuk diperdebatkan.

Dan ia sudah punya rencana lain.

Ia ingin Japikkir menikah dengan perempuan pilihannya sendiri, Perpe boru Lumbanraja. Bagi Jainardo, pernikahan bukan urusan hati, melainkan strategi keluarga. Soal perasaan? Itu bukan prioritas.

Ketika Japikkir menolak, badai mulai terbentuk.

Bagi Jainardo, penolakan itu bukan sekadar pilihan pribadi anaknya. Itu adalah pembangkangan. Sebuah tamparan terhadap harga dirinya sebagai kepala keluarga. Dan bagi seorang pria yang terbiasa ditaati, rasa terancam bisa berubah menjadi sesuatu yang gelap.


Musyawarah yang Menjadi Vonis

Beberapa waktu sebelum Mei 1972, di sebuah rumah sederhana di Kampung Siku, Pardamean, berlangsung sebuah pertemuan yang seharusnya menjadi ruang dialog keluarga.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Di ruangan itu duduk Jainardo, Japikkir, Kamaruddin Gultom—abang ipar Japikkir—dan seorang teman bernama Tinus Lumbanraja. Tidak ada suara tawa. Tidak ada perdebatan terbuka. Hanya suara rendah yang dingin dan tegas.

Jainardo menyampaikan satu kesimpulan yang telah ia putuskan sendiri: selama Santi masih hidup, rencana perjodohan tidak akan pernah berjalan.

Kata-katanya pelan, tetapi maknanya mengerikan.

Santi harus disingkirkan.

Di situlah jiwa Japikkir mulai retak.

Ia mencintai Santi. Ia telah berjanji untuk melindunginya. Tetapi di hadapannya duduk ayahnya—figur yang sejak kecil ia patuhi tanpa bertanya. Dominasi psikologis itu begitu kuat. Bertahun-tahun dididik untuk tunduk membuatnya kehilangan keberanian untuk berkata tidak.

Apakah ia benar-benar setuju? Atau ia hanya terlalu lemah untuk menolak?

Tak ada yang tahu pasti.

Yang jelas, rencana mulai disusun. Mereka membicarakan lokasi yang sepi. Waktu yang tepat. Peran masing-masing. Semua dibicarakan tanpa emosi, seolah sedang merencanakan pekerjaan biasa.

Dan di luar sana, Santi tetap tersenyum, tak tahu bahwa orang yang ia cintai sedang merancang akhir hidupnya.


3 Mei 1972: Siang yang Berubah Menjadi Neraka

Tanggal 3 Mei 1972 datang seperti hari biasa. Matahari bersinar cerah di atas kebun sawit. Tidak ada tanda-tanda bahwa siang itu akan menjadi catatan kelam dalam sejarah kemanusiaan.

Japikkir menemui Santi dengan wajah yang sama seperti biasanya. Tidak ada kemarahan, tidak ada kegelisahan yang terlihat. Ia mengajak Santi berjalan-jalan ke area perkebunan di Kampung Siku—tempat yang jauh dari keramaian.

Santi mempercayainya.

Ia melangkah di samping pria yang ia yakini akan menjadi suaminya. Mungkin mereka berbincang ringan. Mungkin Santi membayangkan masa depan. Mungkin ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap langkah membawanya semakin dekat pada kematian.

Di tengah kebun yang sunyi, suasana berubah.

Dari balik pepohonan, tiga pria lain muncul.

Serangan terjadi begitu cepat.

Santi tak punya kesempatan melawan. Empat pria dewasa menghadangnya. Teriakannya tertelan oleh rimbun daun sawit dan luasnya kebun. Orang yang paling ia percaya berdiri di sana—bukan sebagai pelindung, tetapi sebagai bagian dari algojo.

Hidupnya berakhir di tangan orang yang pernah ia sebut kekasih.

Namun tragedi itu belum selesai.


Ritual yang Menghapus Nurani

Setelah tubuh Santi tak lagi bergerak, suasana tidak berubah menjadi penyesalan.

Sebaliknya, muncul keyakinan mistis yang kelam.

Jainardo memerintahkan sesuatu yang bahkan sulit dibayangkan oleh akal sehat. Tubuh Santi dibedah. Jantung dan hati diambil. Organ-organ itu kemudian dimasak di atas api kecil di lokasi kejadian.

Mereka memakannya.

Bukan karena lapar. Bukan karena terdesak.

Dalam keyakinan yang menyimpang, tindakan itu diyakini dapat “menutup mata batin” agar arwah korban tidak menghantui mereka. Mereka percaya itu bisa membuat mereka kebal dari jerat hukum.

Sebuah pembenaran yang lahir dari ketakutan dan kegelapan batin.

Jasad Santi dikubur dangkal. Tanah diratakan seadanya. Seolah dengan itu, semuanya bisa selesai.

Namun sejarah membuktikan satu hal: kebenaran mungkin tertunda, tetapi jarang benar-benar terkubur.


Terbongkarnya Rahasia

Hilangnya Santi tidak luput dari perhatian. Keluarganya mencari. Warga bertanya-tanya. Desas-desus menyebar dari satu rumah ke rumah lain.

Akhirnya, penyelidikan mengarah pada fakta yang mengerikan.

Satu per satu pelaku ditangkap. Rahasia yang mereka kira terkubur mulai terbuka. Pengakuan muncul. Bukti ditemukan.

Pada akhir 1972, mereka duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Negeri Pematang Siantar. Ruang sidang dipenuhi warga yang ingin melihat wajah para terdakwa—pria-pria yang melakukan sesuatu yang bahkan sulit diterima oleh akal sehat.

Pembelaan bahwa mereka mengalami gangguan jiwa ditolak. Majelis hakim menilai mereka sadar sepenuhnya atas perbuatan mereka.

Peran Jainardo sebagai otak utama terlihat jelas. Ia bukan sekadar pelaku, tetapi penggerak. Dialah yang memulai, yang meyakinkan, yang memerintah.

Dan Japikkir?

Ia berdiri sebagai simbol tragis dari kepatuhan yang salah arah. Seorang anak yang gagal melindungi cintanya karena tak mampu melawan ayahnya.

Vonis dijatuhkan. Hukuman berat menanti.

Namun tak ada hukuman yang bisa mengembalikan nyawa Santi.


Luka yang Lebih Dalam dari Sekadar Kejahatan

Kisah ini bukan hanya tentang pembunuhan.

Ini adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan tanpa batas bisa menghancurkan nilai kemanusiaan. Tentang bagaimana budaya patriarki yang tak memberi ruang dialog bisa berubah menjadi tekanan psikologis yang mematikan.

Ini juga tentang bagaimana cinta bisa kalah oleh rasa takut.

Japikkir mungkin mencintai Santi. Tetapi cintanya tak cukup kuat untuk melawan dominasi ayahnya. Dalam dilema itu, ia memilih kepatuhan—dan pilihan itu mengorbankan nyawa seseorang yang tak bersalah.

Santi menjadi korban bukan hanya dari kejahatan, tetapi dari sistem relasi yang timpang. Dari keluarga yang tak memberi ruang pada suara anak. Dari keyakinan mistis yang menyesatkan.

Dan di tengah rimbunnya kebun sawit yang dulu menjadi saksi, mungkin angin masih berhembus seperti biasa.

Namun tanah itu pernah menyimpan jeritan yang tak terdengar.

Sebuah kisah yang mengingatkan kita bahwa kejahatan paling mengerikan sering kali tidak lahir dari kebencian semata, tetapi dari kombinasi ambisi, ketakutan, dan kepatuhan yang kehilangan nurani.

Dan di balik semua itu, ada satu nama yang tak boleh dilupakan:

Santi.

Seorang gadis yang hanya ingin mencintai dan dicintai, tetapi harus membayar dengan hidupnya.

Posting Komentar untuk "Cinta di Bawah Bayang Patriarki: Tragedi Berdarah di Kebun Sawit Simalungun"