Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ditagih Utang di Tengah Tahlilan, Emosi Anak Meledak dan Hilangkan Simpati Warga

Suasana rumah duka itu seharusnya tenang. Lantunan doa pengajian 7 harian mengalir pelan, mengiringi kesedihan keluarga yang baru saja kehilangan. Kursi-kursi plastik tersusun rapi, aroma kopi dan dupa bercampur di udara. Tapi ketenangan itu pecah seketika.


Puluhan orang datang berbondong-bondong. Bukan pelayat. Mereka adalah penagih utang—warga sekitar—yang menuntut janji pembayaran dari sang ibu pemilik rumah.


Awalnya hanya adu argumen. Suara meninggi, bisik-bisik warga mulai ramai. Hingga di tengah kepanikan itu, seorang pria berkaos hitam melangkah maju, berdiri di garis paling depan. Tubuhnya tegap, sorot matanya tegas. Ia pasang badan.



Belakangan baru diketahui, pria itu adalah ayah kandung dari perempuan yang sedang ditagih. Ironisnya, ia sudah belasan tahun bercerai dari sang ibu. Mantan istrinya bahkan telah membangun keluarga baru. Ia mengaku sama sekali tidak tahu soal utang tersebut.


Namun satu hal jelas:

Ia tetap seorang ayah.


Meski bukan lagi suami, ia tak sanggup melihat putrinya dikepung massa. Ia berdiri bukan untuk membela utang, tapi untuk melindungi darah dagingnya yang tampak panik dan terpojok.


Sayangnya, di sinilah cerita berbelok arah.


Alih-alih menenangkan suasana, sang anak justru kehilangan kendali. Nada bicaranya meninggi. Kata-kata kasar meluncur tanpa rem. Bukan hanya membentak, ia bahkan melontarkan ancaman pembunuhan kepada ibu-ibu yang menagih haknya.


Dalam hitungan menit, situasi yang semula masih bisa dibicarakan secara kekeluargaan berubah menjadi potensi pidana.


Warga sekitar hanya bisa menggelengkan kepala.


Di satu sisi, banyak yang menilai menagih utang di tengah tahlilan memang tidak elok secara etika sosial. Ada duka yang seharusnya dihormati.

Namun di sisi lain, reaksi agresif dan ancaman nyawa justru menghapus simpati yang sempat tersisa.


Sang ayah—yang mungkin datang dengan niat mulia—akhirnya hanya bisa menyaksikan putrinya sendiri memperkeruh keadaan. Ia mencoba menjadi tameng, tetapi emosi anaknya justru menjadi api.


Peristiwa ini meninggalkan pelajaran pahit:


๐Ÿ‘‰ Utang adalah kewajiban, bukan aib.

๐Ÿ‘‰ Menagih boleh, tapi waktu dan cara tetap soal etika.

๐Ÿ‘‰ Dan mengancam nyawa orang lain tidak pernah menjadi solusi—itu hanya memindahkan masalah dari urusan dompet ke urusan hukum.


Kadang, yang membuat situasi hancur bukan masalah utangnya,

melainkan cara kita merespons saat terdesak.


Dan di hari itu, di sebuah rumah duka, semua orang belajar satu hal yang sama:

emosi yang tak terkendali bisa jauh lebih mahal daripada utang sebesar apa pun.

Posting Komentar untuk "Ditagih Utang di Tengah Tahlilan, Emosi Anak Meledak dan Hilangkan Simpati Warga"