Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dampak Besar Program Makan Bergizi Gratis: Petani, Pekerja, dan 60 Juta Anak Terbantu

 JIKA KITA BERPIKIR POSITIF TERHADAP MBG‼️

Hari ini memang banyak suara pesimis terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kritik itu wajar. Tapi mari sejenak kita tarik napas dan membayangkan satu hal besar: apa yang terjadi jika seluruh dapur MBG di Indonesia benar-benar berjalan optimal?

Bayangkan 30.000 dapur MBG aktif di seluruh penjuru negeri. Jika satu dapur saja menyerap minimal 50 tenaga kerja, artinya 1,5 juta orang langsung mendapatkan pekerjaan. Itu bukan angka kecil. Itu adalah 1,5 juta kepala keluarga yang kembali punya harapan.

Jika satu pekerja menafkahi satu istri dan satu anak, maka setidaknya 4,5 juta orang hidupnya ikut terbantu. Anak bisa sekolah lebih tenang, dapur rumah tetap mengepul, dan kebutuhan dasar keluarga terpenuhi dengan cara yang bermartabat: bekerja.



Dari sisi hulu, dampaknya jauh lebih besar lagi.

Satu dapur membutuhkan sekitar 250 kg beras per hari. Jika dikalikan 30.000 dapur, maka 7,5 juta kilogram beras per hari terserap dari petani. Artinya harga gabah lebih stabil, hasil panen terserap, dan petani tidak lagi bergantung pada tengkulak.

Belum lagi kebutuhan protein. Ikan, ayam, telur—sekitar 300 kg per dapur per hari. Secara nasional, itu berarti 9 juta kilogram protein pangan terserap setiap hari. Peternak unggas, nelayan, pembudidaya ikan, hingga buruh di sektor ini ikut merasakan denyut ekonomi yang nyata.

Susu, sayur, dan buah pun ikut bergerak.

Peternak sapi perah mendapatkan kepastian harga.

Petani sayur menjual hasil panen secara rutin.

Petani buah tidak lagi cemas hasil kebunnya membusuk tanpa pembeli.

Ini bukan teori—ini rantai ekonomi yang hidup.

Dan jangan lupakan tujuannya: sekitar 60 juta siswa penerima MBG di seluruh Indonesia.

Bagi sebagian orang, menu MBG mungkin tampak biasa. Tapi bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, makan ikan, ayam, buah, dan minum susu adalah kemewahan yang jarang mereka rasakan. Di sinilah negara hadir, bukan sebagai dermawan, tapi sebagai penjamin masa depan.

Ketika gaji dari dapur MBG cair, uang itu tidak berhenti di satu tangan. Orang tua belanja di warung, beli baju anak, mengajak keluarga ke pasar, taman, atau tempat wisata lokal. Perputaran uang inilah yang menjadi nadi ekonomi rakyat.

Program ini, jika dijalankan dengan jujur, rapi, dan diawasi dengan serius, bukan sekadar soal makan siang gratis. Ini tentang mengubah bantuan pasif menjadi kesempatan bekerja, dari sekadar menerima menjadi ikut berkontribusi.


Ini memang sudut pandang pribadi saya.

Tapi bayangkan jika semua elemen bergerak bersama—pemerintah, pengawas, petani, pekerja, dan masyarakat.

Bukan tidak mungkin MBG menjadi mesin ekonomi rakyat yang sesungguhnya.

Karena bangsa besar tidak dibangun hanya dengan bantuan tunai, tapi dengan memberi rakyat pekerjaan, harga diri, dan harapan.

Posting Komentar untuk "Dampak Besar Program Makan Bergizi Gratis: Petani, Pekerja, dan 60 Juta Anak Terbantu"