Burung Gereja dan Kesalahan Fatal China: Kebijakan Mao yang Picu Kelaparan Terbesar di Dunia
Burung kecil itu tampak biasa saja. Ukurannya mungil, warnanya cokelat kusam, dan sering terlihat meloncat-loncat di atap rumah atau hinggap di kabel listrik. Di Indonesia, kita mengenalnya sebagai burung gereja. Dalam dunia ilmiah, namanya Passer montanus. Burung ini hidup berdampingan dengan manusia sejak lama, memakan biji-bijian, serangga kecil, dan sisa makanan di sekitar permukiman.
Namun siapa sangka, burung kecil yang tampak tidak berbahaya ini pernah menjadi “tersangka utama” dalam sebuah kebijakan negara. Bahkan, ia tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pemicu tidak langsung dari bencana kelaparan terbesar yang pernah dialami umat manusia.
Kisah ini terjadi di China, pada akhir dekade 1950-an, di bawah kepemimpinan Mao Zedong.
Ambisi Besar Mengubah China
Pada tahun 1958, pemerintah China meluncurkan sebuah program ambisius bernama Great Leap Forward atau “Lompatan Jauh ke Depan”. Tujuannya terdengar mulia: mengubah China dari negara agraris miskin menjadi negara industri dan pertanian modern dalam waktu singkat.
Dalam kerangka besar program ini, lahirlah kebijakan nasional yang dikenal sebagai Four Pests Campaign atau Kampanye Empat Hama. Pemerintah menetapkan empat makhluk hidup yang dianggap sebagai musuh negara karena dinilai merugikan kesehatan dan produksi pangan. Empat “hama” tersebut adalah tikus, lalat, nyamuk, dan burung gereja.
Jika tikus, lalat, dan nyamuk masih mudah dipahami sebagai pembawa penyakit, burung gereja justru menjadi target paling kontroversial.
Burung Gereja Dijadikan Kambing Hitam
Pemerintah saat itu meyakini bahwa burung gereja memakan terlalu banyak biji-bijian padi dan gandum. Dalam logika sederhana para pengambil kebijakan, jika burung-burung ini dimusnahkan, maka hasil panen akan meningkat dan rakyat tidak akan kelaparan.
Masalahnya, kebijakan ini dibuat tanpa kajian ekologi yang matang. Alam dipandang secara hitam-putih: ada makhluk yang menguntungkan, dan ada yang merugikan. Burung gereja ditempatkan di sisi yang salah.
Perintah pun turun ke seluruh pelosok negeri. Rakyat diminta, bahkan dipaksa, untuk ikut serta dalam pembasmian burung gereja secara massal.
Pembasmian yang Tak Masuk Akal
Cara pembasmian burung gereja tergolong ekstrem dan brutal. Sarang-sarang burung dihancurkan. Telur-telurnya diremukkan. Anak-anak burung dibunuh sebelum sempat tumbuh.
Namun metode paling terkenal adalah “perang suara”. Seluruh warga—mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia—diperintahkan keluar rumah membawa panci, wajan, kentongan, dan alat logam apa pun. Mereka memukulnya beramai-ramai untuk menciptakan suara bising tanpa henti.
Tujuannya sederhana tapi kejam: membuat burung gereja terus terbang tanpa bisa hinggap. Burung gereja memiliki batas stamina. Setelah berjam-jam terbang tanpa istirahat, banyak yang akhirnya jatuh ke tanah karena kelelahan dan mati.
Dalam waktu singkat, jutaan burung gereja tewas. Di beberapa wilayah China, burung ini hampir punah total.
Saat itu, pemerintah menganggap kampanye ini sukses. Tidak ada lagi burung yang memakan padi. Mereka yakin panen akan melimpah.
Namun alam punya logika sendiri.
Alam Membalas dengan Cara yang Tak Terduga
Burung gereja bukan hanya pemakan biji-bijian. Faktanya, sebagian besar makanannya justru adalah serangga—terutama belalang, ulat, dan berbagai hama pertanian.
Ketika burung gereja menghilang, satu mata rantai ekosistem terputus. Tidak ada lagi pemangsa alami yang mengontrol populasi serangga.
Akibatnya, terjadi ledakan populasi hama dalam skala besar.
Belalang dan ulat berkembang biak tanpa kendali. Ladang-ladang yang sebelumnya hijau berubah menjadi hamparan tanaman rusak. Dalam hitungan minggu, tanaman padi, gandum, dan jagung habis dilalap serangga.
Alih-alih panen meningkat, hasil pertanian justru anjlok drastis.
Kesalahan Berlapis yang Mematikan
Masalah tidak berhenti di situ. Di masa yang sama, kebijakan pertanian China juga dipenuhi kesalahan lain. Sistem kolektivisasi membuat petani kehilangan kendali atas lahan mereka sendiri. Produksi sering dilaporkan secara berlebihan demi menyenangkan atasan.
Laporan palsu tentang hasil panen membuat pemerintah tetap menarik jatah pangan dari desa-desa, padahal cadangan makanan sudah menipis. Akibatnya, banyak wilayah kehabisan makanan sama sekali.
Gabungan antara kehancuran ekosistem, kebijakan keliru, dan manipulasi data inilah yang memicu tragedi besar yang dikenal sebagai Great Chinese Famine atau Kelaparan Besar China.
Tragedi Kemanusiaan yang Tak Terbayangkan
Antara tahun 1959 hingga 1962, China dilanda kelaparan massal. Jutaan orang meninggal dunia akibat kekurangan makanan dan penyakit yang menyertainya.
Angka pastinya masih diperdebatkan hingga kini, namun banyak sejarawan memperkirakan korban jiwa berkisar antara 15 hingga lebih dari 40 juta orang. Ini menjadikannya salah satu bencana kelaparan paling mematikan dalam sejarah manusia.
Di desa-desa, orang-orang terpaksa memakan apa saja yang bisa dimakan: rumput, kulit kayu, bahkan tanah. Banyak keluarga kehilangan seluruh anggotanya. Anak-anak tumbuh dengan trauma yang membekas seumur hidup.
Dan semua ini, sebagian dipicu oleh keputusan untuk memusnahkan seekor burung kecil.
Penyesalan yang Terlambat
Akhirnya, pemerintah China menyadari kesalahan fatal tersebut. Burung gereja dikeluarkan dari daftar “empat hama”. Kampanye pembasmian dihentikan.
Namun populasi burung sudah terlanjur hancur. Untuk memulihkan keseimbangan alam, China bahkan harus mengimpor burung gereja dari Uni Soviet agar ekosistem pertanian bisa kembali stabil.
Sayangnya, kesadaran itu datang terlalu terlambat bagi jutaan nyawa yang telah hilang.
Pelajaran Besar dari Burung Kecil
Kisah burung gereja ini bukan sekadar cerita sejarah. Ia adalah peringatan keras bagi umat manusia.
Alam bukan mesin sederhana yang bisa diatur sesuka hati. Setiap makhluk hidup, sekecil apa pun, memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika manusia menghilangkan satu spesies tanpa pemahaman yang cukup, dampaknya bisa menjalar ke mana-mana dan berujung pada kehancuran besar.
Burung gereja mengajarkan kita bahwa kebijakan yang dibuat tanpa ilmu, tanpa riset, dan tanpa mendengar alam, bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan. Dampaknya bukan hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh generasi-generasi setelahnya.
Dari seekor burung kecil, dunia belajar satu pelajaran besar: alam tidak pernah bisa ditaklukkan, hanya bisa dipahami dan dijaga.


Posting Komentar untuk "Burung Gereja dan Kesalahan Fatal China: Kebijakan Mao yang Picu Kelaparan Terbesar di Dunia"